The Diaries part 2 (END)

Author : Park Minrin

title : The Diaries [TAORIS VERSION]

Chapter 2-end

main cast : Huang Zitao, Wu Yifan

other cast : Zhang Yixing

warning : Typo[s], Gender Switch

==========================

Apa yang sebenarnya aku risaukan?
Kenapa wanita itu harus hadir
diantara aku dan Lao Shi..
Apakah ini berarti aku harus benar-
benar menyerah?


Tolong berikan aku petunjuk Tuhan..
aku tidak mau tersakiti oleh hal yang
tidak pasti seperti ini..
Ku mohon kuatkan hatiku jika Lao Shi
bukanlah seseorang yang tepat
untukku..


Ku mohon Tuhan.. ku mohon…
Aku tidak kuat menahan perasaan
seperti ini..

“Tao! Kenapa kau serius sekali? ini

bukan seperti kau yang biasanya..”

Wufan memandang Tao dengan

pandangan heran karena sedari tadi

anak itu sangat serius mengerjakan

latihannya tanpa berbicara sepatah

katapun padanya.

Tao tidak menghiraukan omongan

Wufan. Saat ini dia hanya sibuk

menyelesaikan soal-soal yang diberikan

Wufan tanpa memperdulikan pria itu.

Tao hanya tidak mau melukai

perasaannya jika terlalu banyak

melakukan kontak mata dengan

Wufan.

Kamar Tao menjadi lebih dingin. Entah

itu karena pendingin ruangannya atau

karena suasana yang diciptakan Tao

sendiri. Wufan hanya cemberut

memandang Tao yang sedang sibuk

menjawab soal-soal yang

diberikannya.

Tok..tok..tok…

Suara ketukan pintu memecah

keheningan diantara mereka berdua.

Tao bangkit dari duduknya kemudian

membukakan pintu.

“Ah Mama.. ada apa?” tanya Tao

saat melihat wajah orang yang

mengetuk pintu kamarnya itu.

“Oh, Mama pikir tidak ada orang.

Ternyata ada temanmu ya..” jawab

Mama Tao.

“Ah, ini hanya guru ku.. dia kemari

memberi pelajaran tambahan

padaku..”

DEG!

‘Hanya guru katanya? Guru yang

datang memberikan pelajaran

tambahan? Tunggu, apa yang aku

pikirkan ini..’ batin Wufan.

“Wah, guru mu baik sekali Tao. Sore-

sore begini sudah mau merelakan

waktunya memberikan pelajaran

tambahan untukmu.” Ujar Mama Tao.

Mama Tao kemudian masuk dan

berjalan kearah Wufan. Wufan

kemudian berdiri dan memberi salam

kepada Mama Tao.

“Selamat sore nyonya, saya Wufan.”

Wufan memperkenalkan dirinya. Dia

memberikan senyuman termanisnya

kepada Nyonya Huang.

“Ah, aku mamanya Tao. Salam kenal

Lao Shi.” Balas mama Tao tersenyum.

Wufan dapat melihat senyuman mama

Tao sama persis seperti senyuman Tao.

Manis.

“Aku guru bahasa inggrisnya Tao.

Salam kenal juga nyonya.”

“Apa? Bahasa inggris? Jadi Lao Shi

memberikan Tao pelajaran tambahan

bahasa inggris? Apa tidak salah?”

tanya Mama Tao tiba-tiba.

“Iya nyonya. Ada apa? Kenapa

nyonya terkejut seperti itu?” tanya

Wufan balik. Tao menunjukan sebuah

kecemasan diwajahnya.

“Anak itu waktu SD kan bersekolah di

Amerika waktu keluarga kami masih

tinggal disana. Keluarga kami 12

tahun tinggal di Amerika, makanya aku

heran kenapa Lao Shi memberinya

pelajaran tambahan bahasa inggris.

Anak ini sangat mahir bahasa inggris

Lao Shi, bahkan dia berbicara dengan

Papa nya menggunakan bahasa

inggris.” Jelas Mama Tao panjang

lebar.

Wufan kemudian memandang Tao, sementara Tao memutar otaknya

mencari alasan.

“Bahasa inggris di China di buat rumit,

Ma. Sudahlah, lain kali lagi Mama

bicara dengan Lao Shi. Aku harus

belajar dulu ya, Ma.” Tao menarik

tangan Mamanya menuju pintu

kamarnya. Mengusir Mamanya secara

halus.

“Kau anak nakal ternyata! Jangan

sampai kau menyusahkan Wufan Lao

Shi, Tao.” Ujar Mamanya bertepatan

dengan Tao menutup pintu kamarnya.

“Ya Mama~~” teriak Tao dari dalam

setelah menutup pintu.

“Mari kita lanjutkan lagi Lao Shi.” Ujar

Tao dengan nada dingin. Wufan yang

tadinya ingin bertanya pada Tao jadi

mengurungkan niatnya setelah

mendengar nada dingin dari anak itu.

-THE DIARIES-

SMA Qingdao…

Suasana dikelas kali ini membuat

anak-anak dikelas 12-3, kelas Tao

menjadi sangat heran. Suasana yang

tenang dalam kelas pada saat mata

pelajaran Wufan, bahasa inggris.

Anak-anak dikelas itu merasa heran

karena biasanya Tao akan selalu

menggoda Wufan, membuat suasana

kelas begitu gaduh saat Wufan

mengajar. Atau mencari perhatian

ketika Wufan sibuk menerangkan

dengan berpura-pura tidak

memperhatikan pelajaran. Pokoknya

ada saja yang dilakukan Tao untuk

memancing emosi Wufan.

Tapi hari ini lain. Tao begitu serius

memperhatikan penjelasan yang

diberikan Wufan. Tidak sepatah kata

pun keluar dari mulutnya ketika Wufan

menjelaskan dan memberikan latihan

pada mereka. Tao menjadi “anak

baik” yang tidak seperti biasanya.

Wufan merasakan sesuatu yang lain

mengusik hatinya. Semacam perasaan

rindu dan tidak senang. Rindu akan

kenakalan Tao, ketidakpedulian Tao

dan kebiasaan Tao saat pelajarannya.

Entah itu sikap cueknya, sikapnya yang

kadang suka mencari perhatian

ataupun celotehannya ketika dia

menerangkan. Dan tidak senang. Dia

tidak senang karena Tao jadi seperti

ini.

Wufan merasa seolah-olah Tao sudah

tidak peduli padanya lagi. Dan dia

tidak suka itu.

-SKIP TIME-

“Ada apa Lao Shi memanggilku?”

tanya Tao ketika dia masuk ke ruang

multimedia saat jam istirahat. Wufan

duduk di sebelah jendela sedang asik

memandang keluar. Dia berdiri tiba-

tiba kemudian menutup tirai jendela

ruangan itu.

“Ada hal yang harus aku bicarakan

padamu Tao.” Jawab Wufan dengan

nada serius.

Pria itu kemudian berjalan kearah Tao,

kearah pintu tepatnya. Dengan cepat

pria berkacamata itu menahan tangan

Tao dan mengunci pintu. Tao berusaha

melepaskan tangan Wufan namun

tenaga pria itu lebih kuat darinya.

“Jangan melawan Tao.” Ujar Wufan

pelan. Tao seperti terhipnotis dengan

nada suara Wufan. Namun sedetik

kemudian dia sadar dan berusaha

melepaskan tangan Wufan.

“Lepaskan aku Lao Shi! Apa yang Lao

Shi inginkan?!” bentak Tao. Wufan

kemudian mendorong tubuh Tao ke

dinding dan menghimpit tubuh anak itu

hingga jarak wajah mereka hanya 5

cm saja.

“Kau ingin tau apa yang kuinginkan,

Huang Zitao?” tanya Wufan.

DEG!

Jantung Tao berdetak kencang sekali.

jarak wajah Wufan yang sedekat ini

membuatnya tidak bisa mengendalikan

dirinya.

Wufan melepas kacamatanya dan

menghadapkan manik hitamnya itu ke

manik hitam milik Tao.

“Tentu saja Lao Shi! Apa yang kau

inginkan?” tanya Tao balik. Tubuh Tao

melemas, Wufan menyeringai.

“Kau benar-benar ingin tau?”

Namun belum sempat Tao menjawab,

Wufan menyambar bibir Tao. Tao

terkejut karena Wufan tiba-tiba

menciumnya. Wufan menarik kepala

Tao dan memperdalam ciumannya.

Dia menciumi bibir Tao dengan liar.

Tao masih bingung namun akhirnya dia

ikut terbuai. Tao membalas ciuman

Wufan.

Mereka berdua berciuman dengan

penuh nafsu dan cukup lama sampai

akhirnya Tao mendorong tubuh Wufan

karena anak itu kehabisan nafas.

“Haah.. haah..” dia benar-benar

sudah kehabisan nafas. Begitupun

Wufan. Pria itu juga terengah-engah

akibat ciuman “hebat”nya dengan

muridnya itu.

Wufan kemudian tersadar, dia sudah

berciuman dengan muridnya sendiri.

Awalnya dia tidak berniat melakukan

ini. Namun pikiran dan hatinya sedang

tidak sejalan. Dorongan yang kuat

dalam hatinya lah yang membuatnya

melakukan ini. Wufan menjadi sangat

bingung, apakah ini yang benar-benar

ada dalam hatinya? Huang Zitao kah?

Sementara Tao yang sudah

sepenuhnya sadar kemudian keluar

dari ruangan itu. meninggalkan Wufan

yang masih terpaku disitu sendirian.

-THE DIARIES-

Haruskah seperti ini? haruskah begini?
Tidak bisakah sedikitpun kau rasakan
perasaanku ini?!
Bagaimana bisa kau lakukan ini
padaku Lao Shi?!


Memberi harapan….


Ya! Kenapa kau melakukannya justru
disaat aku hampir menyerah?
Kenapa kau tidak langsung menghilang
saja dari hatiku Lao Shi?!


Aku sudah cukup tersakiti dengan
perasaan sepihak yang menyedihkan
ini!
Adakah sedikit bayanganku didalam
hatimu itu Lao Shi?


Apakah ciumanmu itu memiliki arti yang
besar untukmu?
Jika tidak akhiri ini Lao Shi! Aku sudah
cukup tersiksa karena memendam
perasaan begini..


Kau membuatku jadi tidak mau
melepasmu sekarang!
Jadi apa yang harus aku lakukan?!
Mengalahkah? Atau merebutmu dari
sisinya??

============================

“Tao.. apa yang kau lamunkan?”

tanya Wufan ketika mereka berdua

berada dikamar Tao. Sudah hari

ketiga semenjak ciuman itu. dan Tao

masih tidak percaya dengan apa yang

dilakukan Wufan padanya tiga hari

yang lalu.

“Entahlah Lao Shi.. terlalu banyak

yang aku pikirkan.. terlalu banyak hal

yang aku risaukan saat ini..” jawab

Tao datar. Pikirannya sekarang entah

melayang kemana. Tidak fokus pada

apapun.

“Apa yang kau pikirkan? Kau bisa

berbagi padaku Tao..” ujar Wufan.

Semakin lama dia semakin menaruh

rasa simpatik yang besar pada anak

itu. hati nuraninya lah yang

menginginkannya melakukan itu.

“Kenapa kau tiba-tiba baik seperti ini

padaku Lao Shi? Dulu kau tidak

pernah seperti ini..” tanya Tao heran.

Dia memang sangat heran dengan

perubahan sikap Wufan akhir-akhir ini

padanya.

“Entahlah… mungkin aku hanya

merasa simpatik padamu. Tapi aku

tidak begitu mengerti, hatiku

menginginkan ini semua Tao.” Jawab

Wufan jujur. Namun pria berkacamata

itu tidak dapat menjelaskan apa

sebenarnya maksudnya.

“Apa maksudmu Lao Shi? Aku tidak

mengerti..” ujar Tao polos. Dia

memang benar-benar tidak mengerti

dengan apa yang dikatakan Wufan.

“Entahlah Tao.. rasanya akhir-akhir ini

kau seperti menarikku untuk selalu

berada di sekitarmu..”

DEG!

Jantung Tao berdetak keras.

Wufan mendekatkan duduknya jadi

semakin merapat kearah Tao.

Sementara Tao yang memang sudah

merapat pada dinding kamarnya itu

hanya bisa mengatur nafas dan

hatinya saja.

“La.. Lao Shi.. bisakah kau sedikit

menjauh..” Ujar Tao gugup. Namun..

GREP!

Wufan menarik tubuh Tao dan

memeluk anak itu. Tao merasakan saat

ini jantungnya sudah berdetak tidak

karuan lagi.

“Lao.. Shi.. apa yang kau…”

“Sssssttt! Biarkan tetap seperti ini Tao..

aku ingin memelukmu..” Wufan

merasakan gejolak yang amat besar

dari dalam hatinya yang membuatnya

ingin memeluk Tao saat ini.

“Tap.. Tapi Lao Shi..”

“Sudahlah Tao.. jangan bicara

apapun lagi..”

Tao terdiam. Entah siapa yang

memulai, namun mereka berdua

terhanyut dalam suasana hati mereka

masing-masing. Ini adalah hal yang

paling Tao inginkan dan sesuatu yang

tidak bisa Wufan kendalikan. Emosi

mereka.

Wufan mendekatkan wajahnya ke

wajah Tao dan menyentuhkan bibir

tipisnya ke bibir anak itu. dan Tao

membalasnya. Mereka saling melumat

bibir satu sama lain. Lembut dan

penuh perasaan. Wufan dapat

merasakan perasaan yang teramat

dalam mengalir dari dalam diri Tao

kedalam dirinya. Detik itu pula lah

Wufan bisa merasakan perasaan cinta

yang teramat dalam dari Tao

untuknya.

Wufan memperdalam ciuman mereka.

Tao bahkan sudah tidak peduli lagi

entah saat ini dia bisa bernafas atau

tidak. Ciuman itu semakin lama semakin

tidak terkendali. Entah siapa yang

memulai tapi saat ini mereka sedang

asik berperang lidah dan bertukar

saliva. Tao sangat menikmati sensasi

ini. begitu pun Wufan. Pria itu justru

semakin bersemangat mengabsen tiap

deret gigi Tao dengan lidahnya itu.

Dan ciuman Wufan sekarang turun ke

leher jenjang Tao yang kemudian

membuat anak itu mendesah halus

ketika lidah Wufan menyentuh bagian

sensitifnya.

“Urrgghh.. kau.. ahh.. geh.. ge..liih..

Lao.. Shi.. shh..”

Wufan jadi semakin bersemangat

meninggalkan jejak kepemilikannya

dileher putih nan jenjang itu. beberapa

jejak merah keunguan bersemayam

dileher putih Tao. Wufan kemudian

mulai meraba dada dan punggung

Tao membuat anak itu menggeliat geli

akibat sentuhan tangan gurunya

tersebut.

KRINGGGGG!!!!

Bunyi ponsel Wufan menginterupsi

mereka berdua. Jika tidak melihat

siapa yang menelponnya, Wufan pasti

tidak akan rela menghentikan

aktivitasnya pada Tao.

“Ah.. Kau sudah pulang? Baiklah

Yixing, aku akan menjemputmu

sekarang. Tunggu aku, oke sayang?”

Wufan kemudian menutup telponnya.

Dia memandang wajah Tao dengan

perasaan teramat menyesal.

“Maafkan aku Tao. Aku harus pergi

sekarang. Yixing sudah menungguku.

Selamat sore Tao. Sekali lagi maafkan

aku..” ujar Wufan kemudian berjalan

keluar dari kamar Tao.

Dan Tao merasakan jantungnya seperti

ditikam langsung oleh belati yang

sangat tajam. Sangat menyakitkan.

-THE DIARIES-

Apakah aku bodoh? Apakah aku gila?
Semakin hari aku semakin
mengharapkan lebih..
Padahal aku tau kenyataanya..
padahal aku tau ini salah..
Tapi kenapa sepertinya dia juga
menikmatinya? Kenapa dia
memberikan harapan ini?


Lao Shi tentu sekarang sudah tau
bagaimana perasaanku..
Tapi kenapa dia melakukan ini?
Kenapa aku terbuai?? Lao Shi benar-
benar membuatku terhanyut..


Tapi penghalang itu…


Wanita itu..


Lao Shi juga menyayanginya..
Jadi siapa yang dicintai Lao Shi
sebenarnya?

========================

“Selamat Wufan! Kau berhasil

memperbaiki nilai-nilai Tao untuk mata

pelajaranmu ini. aku rasa sekarang

kau sudah tidak perlu lagi memberinya

tambahan-tambahan Mr. Wu. Maaf

karena sudah mengambil waktu

luangmu selama ini.” ujar wali kelas

Tao, Mr. Li, saat dia berada di ruang

guru bersama Wufan.

Tao benar-benar sudah mengeluarkan

kemampuannya yang sebenarnya.

Anak itu sudah lelah bermain-main

dengan Wufan. Dia benar-benar ingin

Wufan menjauh dari hidupnya.

“Ah benarkah? Ini tidak masalah

untukku, Mr. Li. Aku senang sekali

akhirnya ini semua berakhir. Karena

selama ini aku sudah bosan meladeni

sikap anak itu.” ujar Wufan.

Wajahnya menunjukkan senyuman

pada Mr. Li, namun ada sesuatu yang

mengganjal hatinya.

“Apakah Tao menyusahkanmu Mr.

Wu?”

“Ya, dia sedikit menyusahkanku Mr. Li.

Tapi setidaknya waktuku tidak terbuang

sia-sia saat ini. Tidak perlu berterima

kasih seperti itu Mr. Li, ini sudah

tugasku.”

“Benarkah? Baiklah Mr. Wu. Hei, Tao,

kenapa kau dari tadi hanya berdiri

saja disitu. Kemarilah Nak.” Ujar Mr.

Li memanggil seseorang yang sedari

tadi hanya berdiri di depan pintu

tanpa berani masuk dan menginterupsi

percakapan dua orang itu.

DEG!

Wufan merasakan jantungnya

berdetak dengan kencang dan

wajahnya pucat. Dia benar-benar

tidak ingin Tao mendengar

percakapannya tadi.

“Ah, sebaiknya aku kembali ke kelas

saja Lao Shi. Aku sudah cukup tau dan

tidak ada lagi yang akan aku

bicarakan. Aku permisi dulu Lao Shi.”

Tao kemudian berjalan menjauh

meninggalkan ruang guru.

Wufan rasanya ingin menghilang dari

situ saat itu juga.

Aku benar-benar menyusahkan..

Ya.. aku memang bukan siapa-siapa..

Ternyata semua ini hanya sandiwara…

Sudahlah Tao, sekarang akhiri saja…

Lupakan semuanya dan pergi..

========================

Wufan POV

Dimana Tao? Kenapa aku tidak

pernah melihatnya lagi? Sudah hampir

dua minggu anak itu tidak masuk

sekolah.. tapi hei.. kenapa aku

mencemaskannya begini?

“Wufan, apa yang sedang kau

pikirkan?” aku memandang Yixing

yang sekarang duduk disebelahku.

Saat ini aku sedang ada dirumahnya.

Aku membantunya memilihkan

undangan untuk pernikahannya nanti.

Tunggu.. ini bukan pernikahanku

dengannya, tapi pernikahannya

dengan seorang pria berkebangsaan

korea bernama Kim Joonmyeon.

“Ah, aku tidak memikirkan apapun

Yixing-ah.”

“Bohong! Kita sudah bersahabat sejak

kecil Wufan. Mustahil aku tidak tau

apa yang terjadi pada sahabatku

sendiri. Kau jangan membuatku

bimbang karena memikirkanmu dan

membuat pernikahanku nanti jadi

batal.” Candanya. Yixing memang tau

bagaimana cara menghibur hatiku.

“Tanpa aku beritahupun kau pasti tau

apa yang aku pikirkan.”

“Apakah tentang anak itu? Huang

Zitao?” tanyanya.

Aku hanya menganggukkan kepalaku.

“Kau masih saja bodoh, Wufan!

Kenapa tidak kau katakan saja kalau

kau menyukainya? Kau bahkan sudah

hampir menodai anak itu dan tau

bagaimana perasaannya padamu tapi

kau tidak adil, kau hanya memberikan

harapan padanya.”

“Aku tidak memberinya harapan,

Yixing. Aku hanya..”

“Hanya apa? Hanya bermain dengan

perasaannya begitu? Kau sudah

dewasa Wufan. Bijaksanalah terhadap

perasaanmu sendiri. Dan jangan lagi

menjadikanku alasan untuk menutupi

perasaanmu yang sebenarnya. Cepat

atau lambat Tao harus tau dan aku

berniat mengundangnya di pesta

pernikahanku.”

“Hei, tapi aku sudah terlanjur

mengatakan padanya kalau kau

adalah tunanganku. Jika aku

mengatakan cinta, itu justru semakin

memojokkan Tao. Dan aku pada

akhirnya hanya dituduh

mempermainkannya.”

“Itulah kebodohanmu dari awal

Wufan! Kenapa kau harus

mengatakan bahwa aku adalah

tunanganmu? Pakai acara menciumku

segala! Kau sendiri yang sudah

menciptakan kesalahpahaman ini dari

awal!”

“Aku kemarin gugup dan hanya ingin

melihat reaksi Tao. Ternyata anak itu

tidak bereaksi apapun. Aku jadi

semakin ingin tau dan akhirnya

melakukan itu.”

“Dan sekarang kau yang harus

menanggungnya Wufan! Sebaiknya

kau jujur pada anak itu sebelum

semuanya terlambat. aku akan selalu

mendukungmu seperti kau selalu

mendukungku.”

Dan aku membuat suatu keputusan

untuk menyudahi semua ini.

End Wufan POV

-THE DIARIES-

Pergi..
Ya, itu yang terbaik..
Yang bisa kulakukan saat ini hanyalah
pergi dari kehidupannya..
Sudah cukup dia mempermainkan
perasaanku dan saat ini aku tidak
peduli lagi..
Aku tidak mau tau lagi seperti apa
perasaannya..
Semoga dia berbahagia..
Walaupun tidak untukku..

=======================

Wufan memacu mobilnya dengan

kencang menuju rumah Tao. Pria itu

sudah benar-benar di penuhi perasaan

bersalah karena selama ini sudah

mempermainkan perasaan Tao. Dia

tidak menyangka ini akan menjadi

serumit ini. karena dia memang juga

jatuh cinta pada anak itu. Hanya

perasaan gengsinya yang tinggilah

yang membuatnya menolak kenyataan

bahwa dia juga menyukai Tao.

Wufan dengan cepat turun dari

mobilnya dan memencet bel rumah Tao

dengan kalap. Sama sekali tidak ada

jawaban. Rumah itu begitu sepi, seperti

tidak menunjukkan tanda-tanda

kehidupan sama sekali. Wufan hampir

saja mendobrak pintunya kalau saja

tetangga Tao tidak segera datang ke

rumah itu.

“Apakah kau mencari pemilik rumah

ini?” sapa orang itu ramah pada

Wufan. Wufan segera berbalik dan

memandang kearah orang itu.

“Iya benar. Dimana orang rumah ini?”

tanya Wufan.

“Mereka sekeluarga baru saja pindah

ke Amerika, ke Kanada tepatnya. Oh

iya, apakah kau yang bernama

Wufan? Tao menyuruhku menyerahkan

ini padamu. Kuncinya cari saja di laci

kerjamu diruang guru.” Orang itu

menyerahkan sebuah buku diary

bersampul tebal dan berkunci milik

Tao. Wufan menerima diary itu.

“Baiklah, terima kasih.” Wufan

kemudian pamit dan meninggalkan

rumah Tao.

Wufan kemudian memacu mobilnya

menuju sekolah. Satu-satunya tempat

yang dia tuju saat ini untuk mengetahui

apa isi diary Tao.

Wufan bergegas membongkar laci

mejanya. Dan tepat sekali, dia

menemukan sebuah kunci mungil. Kunci

diary itu.

Wufan dengan cepat membuka kunci

diary itu dan mulai membaca isi

diarynya. Dia tidak menyangka isi

diary itu semuanya adalah tentangnya.

Bahkan lengkap dengan foto-fotonya

yang diambil oleh Tao. Dia tidak

menyangka bahwa perasaan Tao

teramat dalam untuknya.

Dan inilah pertama kalinya Wufan

sangat menyesali sesuatu dalam

hidupnya. Dia kehilangan Tao.

-THE DIARIES-

Aku pergi…
Tapi aku yakin kau pasti membaca ini
Lao Shi..
Tenang saja, aku akan kembali lagi.. 5
tahun lagi..
Mungkin saat itu kau sudah hidup
bahagia bersama Yixing Jie, tapi aku
tidak peduli..
Jika kau menjemputku di bandara 5
tahun lagi, aku akan mengatakan
semuanya padamu…
Jadi tunggulah aku, walaupun aku
yakin kau tidak mungkin menunggu..
Namun harapan itu selalu adakan?

5 tahun kemudian…

Seorang wanita cantik bertubuh tinggi

dan berambut panjang hitam sedang

berjalan bak model di Bandara

Internasional di Beijing. Semua mata

tertuju pada wajah cantik wanita itu

sementara wanita itu hanya cuek dan

tidak perduli pada tatapan orang-

orang yang memandangnya itu.

Matanya hanya memandang sekeliling

seolah-olah mencari sesuatu. Bukan

sesuatu tapu seseorang. Wajahnya

menyunggingkan sebuah senyuman

ketika melihat sesosok pria tinggi

berkacamata yang sedang duduk

kebingungan di salah satu bangku

yang ada di bandara tersebut.

“Dia tidak berubah..” wanita itu

kemudian menyunggingkan senyumnya.

Tidak menyangka bahwa itu akan

menunggunya disini.

“Ini sudah lima tahun tapi dia tetap

saja seperti itu.. cih!” ujarnya. Wanita

itu kemudian duduk tepat di samping

pria itu. namun sepertinya pria itu tidak

menyadarinya.

“Excuse me.. Can I ask you, what time
is it?
” tanya wanita itu.

Pria itu yang tak lain adalah Wufan

menoleh kearahnya.

Its already 10 o’clock. Where do you
come from?
” tanya Wufan pada

wanita itu. dia merasa tidak asing

dengan wajahnya. Apa mungkin…

I’m from Canada. Thank you, I’ll go
now. My parent already waited for
me.
” Jawabnya. Dia sengaja

menggoda Wufan. Wanita itu, Huang

Zitao.

Wait a minute, I think we’ve meet
before but I’m forget. I wondering
something, are you Zitao
?” tanyanya

kemudian tidak bisa menghindari rasa

penasarannya lagi.

Tao hanya tersenyum. Wanita cantik itu

kemudian memeluk Wufan yang

kemudian terbengong-bengong.

Yes, I am. Aku merindukanmu, Lao

shi.”

Satu kalimat dari Tao yang membuat

jantung Wufan berdetak sangat

kencang. Bahkan Tao bisa

merasakannya. Wufan kemudian balas

memeluk Tao erat. Sangat erat.

Me too! Aku sangat merindukanmu,

Tao. Aku bahkan menunggu sampai

lima tahun untuk bertemu lagi

denganmu.”

“Aku tau, Yixing jie yang

mengatakannya padaku.” Lirih Tao

dalam pelukan Wufan.

“Apa kau sudah tau semuanya?

Termasuk…”

“Ya aku sudah tau Lao Shi. Karena

Yixing-jie mengirimkan foto-foto

pernikahannya dengan Joonmyeon-ge

padaku. Kau jahat karena sudah

mempermainkanku Lao Shi.” Ujar Tao.

“Maafkan aku Tao. Aku hanya

bingung. Maaf, aku sudah banyak

menyakitimu Tao. Aku benar-benar

tidak bermaksud melakukan itu.”

“Tidak apa-apa Lao Shi.. aku

mengerti. Jadi apa kau ingin tau apa

yang akan aku katakan?”

“Tidak.. aku tidak ingin

mendengarkannya.”

“kenapa?? Kau jahat Lao Shi. Padahal

aku sudah menunggu sampai lima

tahun untuk bisa mengatakannya.”

Ujar Tao.

Wufan kemudian melepas pelukannya dan mengelus rambut

wanita cantik itu.

“Kau tidak perlu mengatakannya

karena akulah yang akan

mengatakannya, Tao. Aku

mencintaimu. Sangat mencintaimu. Dan

kau sudah memilih jalan yang benar

dengan menghukumku seperti ini.

karena dengan inilah aku sadar

bagaimana sebenarnya perasaanku

untukmu.” Ujar Wufan.

Air mata Tao kemudian menetes tanpa dia sadari.

Sebuah air mata kebahagiaan.

“Aku juga sangat mencintaimu Lao Shi.

Dari dulu sampai sekarang pun aku

sangat mencintaimu.”

Wufan kemudian memeluk Tao lagi.

Melepaskan seluruh kerinduan dan

rasa cintanya untuk Tao.

“Wo ai ni Tao.. Wo Ai Ni.. terima

kasih karena kau terus mencintaiku dan

menerima perasaanku. Dan terima

kasih telah mengijinkanku untuk

membaca diarymu. Dengan itulah aku

bisa bertahan untuk terus mencintaimu,

mengingatmu dalam hatiku.”

Tao melepaskan pelukan itu kemudian

mencium bibir Wufan sekilas.

“Aku juga Lao Shi.. Mulai sekarang

aku milikmu..” ujar Tao kemudian

memeluk Wufan lagi. Erat dan

selamanya tidak akan terpisahkan.

Terima kasih Tuhan..
Kau telah menghadirkannya untukku..
Seorang wanita yang dengan tulus
mencintaiku dan selalu mencintaiku…
Izinkan aku terus bersamanya..
Izinkan aku untuk terus mencintai dan
menjaganya..
Selamanya…

-Wu Yi Fan-

-END-

author note :

kyaaaaa mianhaee jeongmal

mianhaeee … udah ngepostnya lama

endingnya begini pula *dirajam

reader*

maaf banget kalo nggak sesuai

harapan dan nggak dapet feelnya,

saya udah berusaha sebaik mungkin

buat readerdeu

RCL

Posted by dinodeer

Credit : hyunriCHO

고맙습니다 ^^ jangan lupa tinggal kan jejak yaa

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s